| Judul | : Sekuntum Tulip Setangkai Sakura |
| Penulis/Pengarang | : Iis W. Kartadinata |
| Kategori | : Sastra/Novel |
Tebal
| : 278 halaman |
Harga
| : Rp 60.000,- |
Tentang "Sekuntum Tulip Setangkai Sakura"
Novel kesatu: Sekuntum
Tulip Setangkai Sakura
Tulip adalah
bunga kebanggaan Belanda. Sedangkan Sakura adalah bunga khas negeri Tenno
Heika. Ungkapan tersebut adalah gambaran kehidupan seorang gadis Sunda
bernama Narosah. Gambaran
marginal di masa akhir penjajahan Belanda dan sebuah masa, ketika munculnya
orang-orang putih sipit di negeri ini. Dia hidup dalam bayang-bayang kekuasaan
tuan Van Den Hook, dan harus menjalani separuh kisah hidup
bersama seorang perwira Jepang.
Novel Kedua: Kembang Pelakon
Kinasih adalah pemain sandiwara yang digandrungi di kota itu. Diawali oleh
peristiwa Bandung Lautan
api, membuat kelompok sandiwaranya harus mengungsi ke wilayah Ciwidey.
Dari situlah kisah ini dimulai.
Kehidupannya semakin berwarna ketika dia berkenalan dengan seorang pemuda
pejuang bernama Permana. Namun, perasaan keduanya sulit dipadukan secara lahir.
Terlalu banyak persoalan yang datang mendera. Dari pihak keluarga, peperangan,
hingga bumbu-bumbu masa lalu Kinasih yang juga sempat dicintai oleh seorang Dai
Nipon (tentara Jepang).
Cara Belanja Di gemintangkarya.com
Silahkan pesan item ini dengan menghubungi Contact Toko yang tertera di sidebar kanan (untuk device mobile ada di bagian bawah), harap disertakan Kode Item atau Nama Item ketika order barang. Barang dikirimkan sehari setelah transaksi selesai. Atau silahkan pesan langsung via tombol Whatapps dan SMS di bawah ini. Admin toko akan langsung merespond pesanan Anda.
Pesan Sekarang SMS Sekarang






2 Reviews
Novel Sekuntum Tulip Setangkai Sakura memiliki ciri khas yang berbeda dari novel kebanyakan. Cerita yang disuguhkan terasa segar dan memberikan sensasi yang berbeda.
Walaupun cerita yang disajikan mengambil latar tahun 1942-an, tapi dengan pemilihan kata yang segar dan atraktif membuat pembaca ikut berimajinasi dan merasakan kesegaran dalam ceritanya.
Terlebih penulis dengan cerdik menyuguhkan landscape cantik kota Bandung tempo dulu, khususnya Ciwidey (Lebamuncang). Hal tersebut memberikan nuansa lain dan menimbulkan rasa rindu untuk membayangkan kota Bandung pada zaman dulu.
Asli kece parah bukunya.
Terima kasih untuk penulis, telah melahirkan novel yang berbeda dari yang biasanya.
sepertinya imajinasi saya kembali bangun dari tidur panjangnya. Terasa segar.
Cara terbaru untuk memberikan tertimoni di arenabuku.com dengan langsung menulis di kolom komentar!
EmoticonEmoticon